Tempat Ziarah

Di Kampung Mahmud terdapat sejumlah makam yang dikeramatkan warga. Beberapa makam seringkali diserbu para peziarah dan berharap berkahnya. Bahkan tidak sedikit peziarah yang datang dari jauh dan menginap di sana. Biasanya peziarah akan membludak pada sepanjang bulan Maulud, puncaknya pada malam Jumat Kliwon. Sebagai gambaran, ketika hari itu tiba, keadaan Kampung Mahmud bagaikan pasar malam. Konon, ada keyakinan bila pada saat-saat tersebut, para leluhur datang dan berkumpul untuk mengamini segala harapan yang disampaikan.

Daya tarik peziarah selain untuk bermunajat di makam-makam leluhur, mereka juga percaya kekeramatan Kampung Mahmud. Bahwa di kampung itu masih terdapat pantang adat yang bila dilanggar maka bisa menimbulkan petaka. Selain itu, Kampung Mahmud juga dianggap sebagai wilayah “ajaib” karena tidak pernah tersentuh banjir, meskipun di lingkari Sungai Citarum yang sering meluap bila musim hujan tiba.

Menurut cerita, hal itu dikarenakan Eyang Haji sempat menugaskan murid kesayangannya bernama Abdullah Gelung. Ia seorang tokoh sakti yang pernah melakoni tapa brata selama 33 tahun di 33 gunung besar di seantero tanah Jawa. Tujuannya untuk untuk melindungi seluruh warga kampung dari ancaman banjir. Dan terbukti hingga saat ini air bah tidak sampai menjilat Kampung Mahmud.

Selain itu, Eyang Haji juga memiliki seorang murid dari bangsa jin yang bernama Raden Kalung Bimanagara. Sosoknya terkadang menampakkan diri dengan wujud lelaki berwajah ganteng dan berbadan ular berwarna keemasan. Tugas Raden Kalung adalah untuk melindungi keturunan Eyang Haji yang tercebur ke dalam sungai Citarum. Menurut warga setempat, tidak ada orang yang berani melihat penampakannya. Dan juga tidak sembarang orang bisa mengundang kehadirannya.

Keanehan lain Kampung Mahmud adalah ketika air sungai Citarum mulai tercemar dan tidak sehat lagi untuk dikonsumsi. Ketika itu, Eyang Haji memberikan izin kepada warganya untuk membuat sumur. Awalnya, warga yang mencoba menggali sumur tidak pernah mendapati adanya mata air. Padahal galian telah demikian dalam. Hal ini sempat dicoba di beberapa tempat, tapi tidak berhasil.

Akhirnya Eyang Haji bermunajat kepada Allah SWT dan memohon agar diberikan air untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya. Tidak lupa Eyang Haji juga memohon restu kepada karuhun agar diperkenankan membuat sumur meski hal itu merupakan pelanggaran adat. Setelah melakukan hal itu, keanehan pun terjadi. Lubang galian sumur yang semula dibiarkan terebengkalai, mendadak mengeluarkan air.

Lokasi kampung yang berada di pinggir Sungai Citarum dipandang cukup strategis. Hingga awal abad ke-19, di Kabupaten Bandung, lalu lintas air melalui sungai masih memegang peranan penting sebagai penghubung antar kampung satu dengan yang lainnya. Apalagi secara geografis, kampung tersebut letaknya tidak terlalu jauh dari Ibukota Kabupaten Bandung, yang waktu itu masih berada di Krapyak (Dayeuhkolot), di antara pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Citarum dan Cikapundung. Bahkan konon, Bupati Bandung R.A. Wiranatakoesoemah II (1794-1829), sempat pula hilir mudik dengan menggunakan perahu dari Krapyak hingga hulu Sungai Cikapundung dengan menggunakan perahu dalam usahanya mencari daerah untuk lokasi pemindahan Ibukota Kabupaten Bandung.
Pada saat awal pendirian kampung tersebut, banyak kegiatan yang terlarang dilakukan oleh penduduk kampung, seperti membuat sumur, menyalakan penerang, membunyikan alat-alat musik termasuk bedug, memiliki perlengkapan meubel rumah tangga, tidak memiliki jendela berdinding kaca, memelihara angsa, dsb. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan terjadinya pergeseran nilai di tengah masyarakat kampung, larangan itu sebagian sudah mulai ditinggalkan.
Kini warga kampung berusaha untuk terus mempertahankan keaslian dan keasrian lingkungan sekitar kampung tersebut. Itu dapat terlihat dengan jelas pada bangunan-bangunan seperti rumah, mesjid, langgar, komplek makam, yang semuanya masih dibuat dengan gaya arsitektur bangunan tradisional sunda. Bangunan-bangunan tersebut dibuat dengan menggunakan bahan kayu serta berdinding anyaman bambu (bilik, bhs. sunda).


 Untuk INFO lain :

canopy kaca harga kanopi kaca kanopi kaca

2 komentar: